10:34 AM

Obstruksi Usus

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II A. OBSTRUKSI USUS
1. Definisi
2. Etiologi
3. Manifestasi Klinik
4. Patofisiologi
5. Komplikasi
6. Pemeriksaan Diagnostik
7. Penatalaksanaan Medis
8. Proses Keperawatan
B. HERNIA
1. Definisi
2. Etiologi
3. Manifestasi Klinik
4. Patofisiologi
5. Komplikasi
6. Pemeriksaan Diagnostik
7. Penatalaksanaan Medis
8. Proses Keperawatan

BAB III KESIMPULAN


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pencernaan adalah sebuah proses metabolisme dimana suatu makhluk hidup memproses sebuah zat dalam rangka untuk mengubah secara kimia atau mekanik sesuatu zat menjadi nutrisi. Namun, jika proses ini terjadi perubahan maka akan terjadi gangguan pencernaan termasuk obstruksi usus dan hernia.
Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran isi usus ke depan tetapi peristaltiknya normal. (Reeves, 2001).
Obstruksi usus merupakan suatu blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus dan makanan dapat secara mekanis atau fungsional. (Tucker, 1998). Sedangkan hernia adalah prostusi dari organ melalui organ defektif yang didapat/ kongenital pada dinding rongga yang secara normal berisi organ. (Barbara Engran, 1998).
Oleh karena itu, Kami menulis makalah ini guna agar mahasiswa mengetahui hal-hal mengenai obstruksi usus dan hernia, yang akan dibahas secara lengkap pada bab berikutnya.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengerti dan menjelaskan jenis- jenis dari gangguan obstruksi pencernaan.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan:
a. definisi penyakit obstruksi usus dan hernia
b. etiologi penyakit obstruksi usus dan hernia
c. manifestasi klinik penyakit obstruksi usus dan hernia
d. patofisiologi penyakit obstruksi usus dan hernia
e. komplikasi penyakit obstruksi usus dan hernia
f. pemeriksaan diagnostik penyakit obstruksi usus dan hernia
g. penatalaksanaan medis penyakit obstruksi usus dan hernia
h. proses keperawatan penyakit obstruksi usus dan hernia

BAB II
ISI

A. OBSTRUKSI USUS
1. Pengertian
a. Nettina, 2001
Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal.
b. Tucker, 1998
Obstruksi usus merupakan suatu blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus dan makanan dapat secara mekanis atau fungsional
c. Ester, M, 2002:49
Obstruksi usus adalah kerusakan parsial atau komplit aliran isi usus ke arah ke depan. Yang kebanyakan terjadi di usus halus khususnya di ileum.
d. Long B. C, 1996:242
Gangguan yang terjadi ketika terdapat rintangan terhadap aliran normal dari isi usus, bisa juga karena hambatan terhadap rangsangan syaraf untuk terjadinya peristaltik atau karena adanya blokkage pada ileus mekanik/organik.

2. Etiologi
Obstruksi usus dapat disebabkan oleh tiga macam faktor (Ester, M, 2002:49). yaitu :
a. Faktor Mekanis : Suatu penyebab fisik menyumbat usus dab tidak dapat diatasi oleh peristaltik
• Perlekatan atau adhesi yaitu lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen (Brunner & Suddarth, 2002:1121). Pada perlekatan usus halus adhesi pita-pita jaringan ikat mungkin terbentuk dari organ ke organ ke dinding peritoneum sebagai hasil penyembuhan dari peritonitis atau setelah setiap operasi abdominal (Robbins & Kumar, 1995:266).
• Hernia : Protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen
• Volvulus yaitu usus memutar dan kembali kekeadaan, akibatnya lumen usus menjadi tersumbat, menunjukkan adanya pemelintiran (pemutaran) dari saluran usus, kira-kira pada dasar pelekatan mesenterik. Hal ini sering terjadi pada usus halus, tapi saluran sigmoid yang sangat berlebihan munkin dapat terkena. Obstruksi dan infrak sering terjadi pada kasus ini (Robbins dan Kumar, 1995:266).
• Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus
b. Faktor Neurogenik/Fungsional : Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong
• Intususepsi atau invaginasi adalah bagian dari usus menyusup ke dalam bagian lain yang ada di bawahnya akibat penyempitan lumen usus. Pada gangguan ini satu segmen dari usus halus dikerutkan oleh suatu gelombang peristaltik, serta masuk mengalami invaginasi ke dalam segmen distal dari usus tersebut. Sekali terjebak, segmen yang masuk tersebut oleh gerakan peristaltik didorong ke dalam segmen bagian distal, ikut menarik mesenterium dibelakangnya (Robbins dan Kumar, 1995:266).
c. Faktor vaskuler yaitu obstruksi aliran darah yang dapat timbul sebagai akibat dari okulasi komplet (infark mesentrika) atau oklusi proksimal (angina abdominal).

3. Manifestasi Klinik
Mansjoer, A, 2000:318
a. nyeri karena luka atau akibat penumpukan gas
b. mual, muntah karena adanya distensi abdomen dan akumulasi gas dan cairan,
c. konstipasi bisa terjadi karena kurang aktivitas, penurunan gerakan gastrointestinal,
d. retensia urine karena adanya tekanan pada kandung kencing (),

Boughman & Hackley,2000:382
a. dehidrasi mengakibatkan haus yang berlebihan, rasa mengantuk, malaise dan sakit,
b. shock karena dehidrasi atau kehilangan volume plasma.

Long, B.C, 1996:79
Pada manifestasi klinis pasca bedah yaitu terjadi
 konstipasi
 mual
 muntah
 retensi urin
 distensi abdominal
 nyeri karena gas
 nyeri disertai dingin
 nyeri disertai demam.



4. Patofisiologi


5. Komplikasi
a. Peritionitis
b. Syok Hipovolemia

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Sinar x abdomen menunjukkan gas atau cairan di dalam usus
b. Barium enema menunjukkan kolon yang terdistensi, berisi udara atau lipatan sigmoid yang tertutup.
c. Penurunan kadar serum natrium, kalium dan klorida akibat muntah; peningkatan hitung SDP dengan nekrosis, strangulasi atau peritonitis dan peningkatan kadar serum amilase karena iritasi pankreas oleh lipatan usus.
d. Arteri gas darah dapat mengindikasikan asidosis atau alkalosis metabolik

7. Penatalaksanaan Medis
a. Koreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
b. Terapi Na+, K+, komponen darah
c. Ringer laktat untuk mengoreksi kekurangan cairan interstisial
d. Dekstrosa dan air untuk memperbaiki kekurangan cairan intraseluler
e. Dekompresi selang nasoenteral yang panjang dari proksimal usus ke area penyumbatan; selang dapat dimasukkan dengan lebih efektif dengan pasien berbaring miring ke kanan.
f. Implementasikan pengobatan unutk syok dan peritonitis.
g. Hiperalimentasi untuk mengoreksi defisiensi protein karena obstruksi kronik, ileus paralitik atau infeksi.
h. Reseksi usus dengan anastomosis dari ujung ke ujung.
i. Ostomi barrel-ganda jika anastomosis dari ujung ke ujung terlalu beresiko.
j. Kolostomi lingkaran untuk mengalihkan aliran feses dan mendekompresi usus dengan reseksi usus yang dilakukan sebagai prosedur kedua.

8. Proses Keperawatan
a. Pengkajian
Pada pengkajian umum dapat terjadi anoreksia dan malaise, demam, takikardia, diaforesis, pucat, kekakuan abdomen, kegagalan untuk mengeluarkan feses atau flatus secara rectal/perostomi, peningkatan bising usus (awal obstruksi), penurunan bising usus (lanjut), retensi perkemihan, leukositosis (Tucker, 1998:325), menurut Sjamsuhidayat fokus pengkajian post operasi yaitu nyeri tekan jika meluas, mengembangnya distensi perut, adanya perdarahan, suhu badan meningkat, takikardia, perubahan mental (takut, gelisah, somnolen), masa yang nyeri khususnya jika disertai suhu tinggi (Sjamsuhidayat, 1997:843).

b. Diagnosa
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah, demam dan atau diforesis.
Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi
Kriteria hasil
a. Tanda vital normal
b. Masukan dan haluaran seimbang

Intervensi:
a. Pantau tanda vital dan observasi tingkat kesadaran dan gejala syok
b. Pantau cairan parentral dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin
c. Pantau selang nasointestinal dan alat penghisap rendah dan intermitten. Ukur haluaran drainase setiap 8 jam, observasi isi terhadap warna dan konsistensi
d. Posisikan pasien pada miring kanan; kemudian miring kiri untuk memudahkan pasasse ke dalam usus; jangan memplester selang ke hidung sampai selang pada posisi yang benar
e. Pantau selang terhadap masuknya cairan setiap jam
f. Kateter uretral indwelling dapat dipasang; laporkan haluaran kurang dari 50 ml/jam
g. Ukur lingkar abdomen setiap 4 jam
h. Pantau elektrolit, Hb dan Ht
i. Siapkan untuk pembedahan sesuai indikasi
j. Bila pembedahan tidak dilakukan, kolaborasikan pemberian cairan per oral juga dengan mengklem selang usus selama 1 jam dan memberikanjumlah air yang telah diukur atau memberikan cairan setelah selang usus diangkat.

k. Buka selang, bila dipasang, pada waktu khusus seusai pesanan, untuk memperkirakan jumlah absorpsi.
l. Observsi abdomen terhadap ketidaknyamanan, distensi, nyeri atau kekauan.
m. Auskultasi bising usus, 1 jam setelah makan; laporkan tak adanya bising usus.
n. Cairan sebanyak 2500 ml/hari kecuali dikontraindikasikan.
o. Ukur masukan dan haluaran sampai adekuat.
p. Observasi feses pertama terhadap warna, konsistensi dan jumlah; hindari konstipasi

2. Nyeri berhubungan dengan distensi, kekakuan
Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol
Kriteria hasil : pasien mengungkapkan penurunan ketidaknyamanan; menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan relaks.

Intervensi :
a. Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman; jangan menyangga lutut.
b. Kaji lokasi, berat dan tipe nyeri
c. Kaji keefektifan dan pantau terhadap efek samping anlgesik; hindari morfin
d. Berikan periode istirahat terencana.
e. Kaji dan anjurkan melakukan lathan rentang gerak aktif atau pasif setiap 4 jam.
f. Ubah posisi dengan sering dan berikan gosokan punggung dan perawatan kulit.
g. Auskultasi bising usus; perhatikan peningkatan kekauan atau nyeri; berikan enema perlahan bila dipesankan.
h. Mengajarkan tekhnik relaksasi nafas dalam
i. Berikan dan anjurkan tindakan alternatif penghilang nyeri.

3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen dan atau kekakuan.
Tujuan : pola nafas menjadi efektif.
Kriteria hasil : pasien menunjukkan kemampuan melakukan latihan pernafasan, pernafasan yang dalam dan perlahan.
Intervensi :
a. Kaji status pernafasan; observasi terhadap menelan, “pernafasan cepat”
b. Tinggikan kepala tempat tidur 40-60 derajat.
c. Pantau terapi oksigen atau spirometer insentif
d. Kaji dan ajarkan pasien untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan napas dalam setiap jam.
e. Auskultasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam.

4. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan.
Tujuan : ansietas teratasi
Kriteria hasil : pasien mengungkapkan pemahaman tentang penyakit saat ini dan mendemonstrasikan keterampilan kooping positif dalam menghadapi ansietas.

Intervensi:
a. Kaji perilaku koping baru dan anjurkan penggunaan ketrampilan yang berhasil pada waktu lalu.
b. Dorong dan sediakan waktu untuk mengungkapkan ansietas dan rasa takut; berikan penenangan.
c. Jelaskan prosedur dan tindakan dan beri penguatan penjelasan mengenai penyakit, tindakan dan prognosis.
d. Pertahankan lingkungan yang tenang dan tanpa stres.
e. Dorong dukungan keluarga dan orang terdekat.

5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Tujuan : Klien menunjukan peningkatan asupan nutrisi
Intervensi:
a. Mengkaji pola makan pasien
b. Menyajikan makanan dalam keadaan hangat dan menarik
c. Memberikan informasi tentang pentingnya nutrisi sesuai diit bubur halus
d. Menjaga kebersihan oral hygiene

HERNIA
A. Definisi
a. Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek kongenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246)
b. Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari, 2000 : 216)
c. Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253)
d. Hernia adalah penonjolan peritoneum parietale yang berisi viskus melalui bagian yang lemah pada dinding abdomen. (http://karisyogya.blog.m3-access.com/posts/38272_ASUHAN-KEPERAWATAN-HERNIA.html)

Pada hernia selalu ada 3 unsur, yaitu:
1. Kantung hernia (peritoneum parietale)
2. Isi (viskus: organ/jaringan yang keluar melalui kantung hernia)
3. Pintu/hernia (locus minorus resisten)
B. Klasifikasi
a. Hernia congenital:
a) Hernia umbilikalis
b) Hernia diafragnatika
c) Hernia inguinalis lateralis
b. Hernia didapat:
a) Hernia inguinalis medialis
b) Hernia femoralis
Secara Klinis:
• Reponibilis: hernia yang masih dapat keluar masuk
• Irreponibilis: Hernia yang sudah tidak dapat masuk, viskus melekat pada kantung dan ada infeksi
• Strangulasi: hernia yang terjadi karena terjepitnya pembuluh dapat tapi masih mendapat nutrisi/ terdapat gangguan vascularisasi
• Incarserata: lumen terjepit sehingga tidak mendapat nutrisi, terjadi parase usus
C. Etiologi:
1. Hernia congenital:
• Processus vaginalis peritoneum persisten
• Testis tidak samapi scrotum, sehingga processus tetap terbuka
• Penurunan baru terjadi 1-2 hari sebelum kelahiran, sehingga processus belum sempat menutupdan pada waktu dilahirkan masih tetap terbuka
• Predileksi tempat: sisi kanan karena testis kanan mengalami desensus setelah kiri terlebih dahulu.
• Dapat timbul pada masa bayi atau sesudah dewasa.
• Hernia indirect pada bayi berhubungan dengan criptocismus dan hidrocele
2. Hernia didapat:
Ada factor predisposisi:
• Kelemahan struktur aponeurosis dan fascia tranversa
• Pada orang tua karena degenerasi/atropi
• Tekanan intra abdomen meningkat
• Pekerjaan mengangkat benda-benda berat
• Batuk kronik
• Gangguan BAB, missal struktur ani, feses keras
• Gangguan BAK, mis: BPH, veskolitiasis
• Sering melahirkan: hernia femoralis
D. Diagnosa
a. Anamnesa
• Timbul benjolan di lipat paha yang hilang timbul
• Penonjolan dapat timbul bila tekanan intra abdomen naik
• Benjolan dapat hilang jika pasien tiduran atau dimasukkan dengan tangan (manual)
• Nyeri
b. Pemeriksaan fisik
Benjolan pada lipat paha atau scrotum dengan batas atas tidak jelas, bising usus (+), transiluminasi (-).
c. Rontgen foto



a. Hernia Inguinalis Medialis
a) Definisi:
Merupakan hernia yang berjalan melalui dinding inguinal belakang, medial dari vasa epigastrika inferior ke daerah yang dibatasi trigonum Hasselbachii.
b) Etiologi
Biasanya tidak ditemukan sebab yang pasti, meskipun kadang dihubungkan dengan angkat berat. Hernia terjadi jika bagian dari organ perut( biasanya usus) menonjol melalui suatu titik yang lemah atau robekan pada dinding otot yang tipis, yang menahan organ perut pada tempatnya.
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia, lebih banyak pada pria ketimbang pada wanita. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Disamping itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut.
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosessus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan didalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut karena usia.
Proses turunnya testis mengikuti prosessus vaginalis. Pada nenonatus kurang lebih 90% prosessus vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur satu tahun sekitar 30 % prosessus vaginalis belum tertutup. Tetapi kejadian hernia pada umur ini hanya beberapa persen. Tidak sampai 10% anak dengan prosessus vaginalis paten menderita hernia. Pada anak dengan hernia unilateral dapat dijumpai prosessus veginalis paten kontralateral lebih dari separo, sedangkan insiden hernia tidak melebihi 20%. Umumnya disimpulkan bahwa adanya prosessus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tapi diperlukan faktor lain seperti anulus inguinalis yang cukup besar.
Tekanan intra abdomen yang meniggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi dan asites sering disertai hernia inguinalis.
Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra abdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya.
Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal, sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n.ilioinguinalis dan n.iliofemoralis setelah apendektomi. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai scrotum disebut hernia skrotalis.

c) Penatalaksanaan
Prinsipnya untuk mencegah inkarserasi atau strangulasi semua hernia harus direpair, kecuali hernia direc yang kecil.
Konservatif:
• Hanya dilakukan pada keadaan yang masih reponibel.
• Dengan cara mengatasi factor-faktor predisposisi bukan penatalaksanaan yang ideal.
• Pada anak-anak dengan hernia indirect irreponibel diberi terapi konservatif dengan: obat penenang (valium), posisi trandelenburg, dan kompres es.
Operatif:
• Herniotomi: pembebasan kantung hernia samapai pada lehernya, kantung dibuka dan isi hernia dibebaskan,
• Hernioplasti: memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis,
• Herniografi: membuat plasty di abdomen sehingga LMR menjadi kuat.
d) Penanganan pasca opersi:
1. Pasca operasi perlu dilakukan drainase untuk mencegah terjadinya hematoma.
2. Pasien dibaringkan dengan posisi semi fowler (berbaring dengan lutut ditekuk) agar diding abdomen tidak tegang.
3. Diusahakan agar penderita tidak batuk atau menangis.
4. Dalam waktu 1 bulan jangan mengangkut barang yang berat.
5. Selama waktu 3 bulan tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat menaikkan tekanan intra abdomen.

e) Komplikasi
• Perlekatan
• H. Irreponibilis
• Terjadinya jepitan menyebabkan isckemi
• Infeksi yang dapat menimbulkan nekrose
• Opstipasi
• H.incarserata

b. Hernia Nukleus Pulposus
a) Definisi:
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002). Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis. (Priguna Sidharta, 1990)
b) Patofisiologi:
Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma (seperti jatuh, kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.


c) Manifestasi Klinis:
• Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal
• Nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh).

d) Pemeriksaan Diagnostik
1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang
2. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal lumbal.
3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I
4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena.
Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik.
Macam :
a. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral
b. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks
c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.
d. Disektomi dengan peleburan.
2. Immobilisasi
Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal, traksi, atau brace.
3. Traksi
aksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban.
4. Meredakan Nyeri
mpres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid.

Pengkajian
1. Anamnesa
Keluhan utama, riwayat perawatan sekarang, Riwayat kesehatan dahulu, Riwayat kesehatan keluarga
2. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian terhadap masalah pasien terdiri dari awitan, lokasi dan penyebaran nyeri, parestesia, keterbatasan gerak dan keterbatasan fungsi leher, bahu dan ekstremitas atas. Pengkajian pada daerah spinal servikal meliputi palpasi yang bertujuan untuk mengkaji tonus otot dan kekakuannya.
3. Pemeriksaan Penunjang

Diagnosa Keperawatan yang Muncul
1. Nyeri b.d Kompresi saraf, spasme otot
2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus
3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual
4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis dan tindakan pengobatan.
Intervensi
1. Nyeri b.d kompresi saraf, spasme otot
a. Kaji keluhan nyeri, lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus / yang memperberat. Tetapkan skala 0 – 10
b. Pertahankan tirah baring, posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi, posisi telentang
c. Gunakan logroll (papan) selama melakukan perubahan posisi
d. Bantu pemasangan brace / korset
e. Batasi aktifitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan
f. Ajarkan teknik relaksasi
g. Kolaborasi : analgetik, traksi, fisioterapi
2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus
a. Berikan / bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
b. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif
c. Berikan perawatan kulit dengan baik, masase titik yang tertekan setelah rehap perubahan posisi. Periksa keadaan kulit dibawah brace dengan periode waktu tertentu.
d. Catat respon emosi / perilaku pada immobilisasi
e. Demonstrasikan penggunaan alat penolong seperti tongkat.
f. Kolaborasi : analgetik
3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual
a. Kaji tingkat ansietas pasien
b. Berikan informasi yang akurat
c. Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah seperti kemungkinan paralisis, pengaruh terhadap fungsi seksual, perubahan peran dan tanggung jawab.
d. Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhannya.
e. Libatkan keluarga
4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis
a. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis dan pembatasan kegiatan
b. Berikan informasi mengenai mekanika tubuh sendiri untuk berdiri, mengangkat dan menggunakan sepatu penyokong
c. Diskusikan mengenai pengobatan dan efek sampingnya.
d. Anjurkan untuk menggunakan papan / matras yang kuat, bantal kecil yang agak datar dibawah leher, tidur miring dengan lutut difleksikan, hindari posisi telungkup.
e. Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama
f. Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu diperhatikan seperti nyeri tusuk, kehilangan sensasi / kemampuan untuk berjalan.

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, Suzane C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth edisi 8 Vol 3, Jakarta : EGC, 2002
Doengoes, ME, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 2, Jakarta : EGC, 2000.
_______2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Ed, III. Jakarta: Media Aeseolapius FKUI
Ester, M. 2000. Keperawatan Medikal Bedah.jakarta: EGC
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Ed. III, jilid 2. jakarta: Media Aeseolapius
Robbins & Kumar. 1995. buku Ajar Patologi II, Ed. 4. jakarta: EGC
Sjamsuhidayat. 1997. bahan Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
Tucker,Susan Martin,Standar Perawatan Pasien edisi 5, Jakarta : EGC, 1998.
Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah, Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996.
Priguna Sidharta, Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek, Jakarta : Dian Rakyat, 1996.
Chusid, IG, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional, Yogyakarta : Gajahmada University Press, 1993
Nettina, Sandra M. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih Bahasa Setiawan dkk. Ed. 1. jakarta: EGC;2001
Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. jakarta: EGC;1994
Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. 1. Jakarta: Salemba Medika;2001
Ahmad, R.P, K. St, 1997, kamus Kedokteran, Djambatan, Jakarta
Baughman D.C & Hackley, J.C, 2000, Keperawatan Medikal Bedah, Alih Bahasa Yasmin Asih, Jakarta: EGC
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Ed.VIII, Volume II. Jakarta: EGC
Carpenito, L.J. 1998. Diagnosa Keperawatan, Alih Bahasa Yasmin Asih Ed. VI. Jakarta: EGC
______2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, ED. VI. Jakarta: EGC
http://obstruksiusus.blogspot.com/2008_08_01_archieve.html
http://augusfarly.wordpress.com/2008/08/21/asuhan-keperawatan-hernia-nukleus-pulposus/
http://www.ilmukeperawatan.com/asuhan_keperawatan_hnp.html

http://karisyogya.blog.m3-access.com/posts/38272_ASUHAN-KEPERAWATAN-HERNIA.html


»»  Baca Selanjutnya...
10:28 AM

Mal Praktik pada Anak

TINJAUAN TEORI


A. Pengertian Malpraktik

Menurut Guwandi malpraktik adalah kelalaian dari seorang dokter atau perawat untuk menerapkan tingkat keterampilan dan pengetahuannya didalam memberikan pelayanan pengobatan dan perawatan terhadap seorang pasien yang lazim diterapkan dalam mengobati dan merawat orang sakit atau terluka dilingkungan wilayah yang sama.
Menurut Vestal KW (1995) malpraktik adalah kegagalan seorang professional (misalnya dokter dan perawat) untuk melakukan praktik sesuai standar profesi yang berlaku bagi seorang karena memiliki keterampilan dan pendidikan.

Vestal, K.W. (1995) mengatakan bahwa untuk mengatakan secara pasti mal praktik, apabila penggugat dapat menunjukan hal-hal dibawah ini :
1) Duty. Pada saat terjadinya cidera, terkait dengan kewajibannya yaitu, kewajiban mempergunakan segala ilmu dan kepandaiannya untuk menyembuhkan atau setidaknya meringankan beban penderita pasiennya berdasarkan standar profesi. Hubungan perawat-klien menunjukan bhwa melakukan kewajiban berdasarkan standar keperawatan.
2) Breach of the Duty. Pelanggaran terjadi sehubungan dengan kewajibannya, artinya menyimpang dari apa ang seharusnya dilakukan menurut standar profesi. Contoh : pelanggaran yang terjadi terhadap antara pasien antara lain, kegagalan dalam memenuhi standar keperawatan yang ditetapkan sebagai kebijakan rumah sakit.
3) Injury. Seseorang mengalami cidera (injury) atau kerusakan (damage) yang didapat dituntut secara hukum, misalnya pasien mengalami cidera sebagai akiat pelanggaran. Keluhan nyeri, adaya penderitya atau stress emosi dapat dipertimbangkan sebagai akibat cidera jika terkait dengan cidera fisik.
4) Proximate caused. Pelanggaran terhadap kewajibannya meyeabkan atau terkait dengan cidera yang dialami pasien. Misalnya, cidera yang terjadi secara langsung berhubungan dengan pelanggaran terhadap kewajiban perawat terhadap pasien.
(Julianus,Akke.Hal.10)

Malpraktik adalah kelalaian yang dilakukan oleh seorang professional seperti perawat atau dokter. ( Perry dan Potter, 2005 )

B Pedoman Untuk Mencegah Terjadinya Malpraktik

Venstal, K. W, (1995) memberikan pedoman untuk mencegah terjadinya mal praktik. Pedoman-pedoman itu sebagai berikut :
1. Berikankan kasih sayang kepada pasien sebagaimana anda mengasihi diri sendiri. Layani pasien dan keluarganya dengan jujur dan penuh rasa hormat.
 perawat telah memberikan kasih sayang pada pasiennya, tetapi perawat melakukan tindakan keperawatan tidak sesuai dengan standar. Sehingga malpraktik masih terjadi.
2. Gunakan pengetahuan keperawatan untuk menetapkan diagnosa keperawatan yang tepat dan laksanakan intervensi keperawatan yang diperlukan. Perawat mempunyai kewajiban menyusun pengkajian dan melaksanakannya dengan benar.
 perawat tidak teliti dan tidak hati-hati dalam melakukan tindakan keperawatan. Hal ini mengakibatkan malpraktik masih terjadi.
3. Utamakan kepentingan pasien. Jika tim kesehatan lainnya ragu-ragu terhadap tindakan yang akan dilakukan atau kurang merespon perubahan kondisi pasien, diskusikan bersama tim keperawatan guna memberikan masukan yang diperlukan bagi tim kesehatan lainnya.
 perawat terburu-buru dalam mengambil keputusan untuk melakukan tindakan keperawatan.Sehingga malpraktik masih terjadi.
4. Tanyakan saran atau pesan yang diberikan oleh dokter jika perintah tidak jelas, masalah itu ditanyakan oleh pasien atau pasien menolak, tindakan yang meragukan atau tidak tepat sehubungan dengan perubahan pada kondisi kesehatan pasien. Terima perintah dengan jelas dan tertulis.
 Perawat tidak melakukan kolaborasi dengan dokter dalam memberikan obat pada pasien. Hal ini merupakan salah satu penyebab malpraktik masih terjadi.
5. Tingkatkan kemampuan anda secara terus menerus sehingga up to date. Ikuti perkembangan terbaru yang terjadi di lapangan dan bekerja berdasarkan pedoman yang berlaku.
 sebenarnya, kemampuan perawat dalam melakukan tindakan keperawatan sudah baik. Namun, belum sempurna dalam pelaksanaan tindakan keperawatannya.
6. Jangan melakukan tindakan yang belum dikuasai.
 sebelum melakukan tindakan keperwatan pada klien, perawat harus mempersiapkan diri terlebih dahulu.
7. Laksanakan asuhan keperwatan berdasarkan model proses keperawatan. Hindari kekurang hati-hatian dalam memberikan asuhan keperawatan.
 karena perawat tidak melaksanakan asuhan keperawatan dengan baik dan benar mengakibatkan terjadinya malpraktik.
8. Catat rencana keperawatan respon pasien selama dalam asuahan keperawatan. Nyatakan secara jelas dan lengkap. Catat sesegera mungkin fakta yang anda observasi secara jelas.
 karena perawat tidak mencatat rencana keperawatan dan perawat juga tidak mencatat respon klien setelah melakukan tindakan, sehingga mengakibatkan terjadinya malpraktik.
9. Lakukan konsultasi dengan anggota tim lainnya. Biasakan bekerja berdasarkan kebijakan organisasi atau rumah sakit dan prosedur tindakan yang berlaku.
 karena perawat tidak bekerja berdasarkan kebijakan organisasi atau rumah sakit dan tidak bekerja berdasarkan prosedur tindakan yang berlaku, mengakibatkan terjadinya malpraktik.
10. Pelimpahan tugas secara bijaksana dan ketahui lingkup tugas masing-masing. Jangan pernah menerima atau meminta orang lain menerima tanggung jawab yang tidak dapat anda tangani.
terkadang perawat melimpahkan tugas pada perawat lain tapi, tindakannya tidak jelas dan perawat yang dilimpahkan tugas belum dapat melakukan tindakan keperawatan yang dilimpahkan. Hal ini mengakibatkan terjadinya malpraktik.

C Pengertian Keperawatan anak.
Keyakinan yang diperoleh perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan
anak yang berfokus pada keluarga
Artinya :
Sebagai perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan anak, harus mampu memfasilitasi keluarga dalam berbagai bentuk pelayanan kesehatan baik berupa pemberian tindakan keperawatan langsung maupun pemberian pendidikan kesehatan pada anak. Arti Anak itu sendiri yaitu seseorang yang usianya < 18 tahun dalam masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik kebutuhan fisik, psikologis, sosial dan spiritual. (Alimul Aziz Hidayat. 2005. Pengantar Keperawatan Anak I)


D Prinsip-prinsip Keperawatan Anak
Dalam menerapkan asuhan perawat harus memahami dan mengingat ada beberapa prinsip yang berbeda dalam Asuhan Keperawatan Anak diantaranya:
1. Anak bukan miniatur (yang diperlakukan hanya sebagai mainan) orang dewasa tetapi sebagai individu yang unik yang artinya tidak boleh menganggap anak dari ukuran fisik saja tetapi mempunyai kemapuan dan kematangannya.
2. Anak mempunyai kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangannya (sesuai dengan usia tumbuh kembangnya) kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan Nutrisi, cairan, eliminasi, aktivitas, istirahat tidur, selain itu anak juga membutuhkan kebutuhan psikologis, social, spiritual.
3. Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya penceghan penyakit dan meningkatkan derajat kesehatan bukan hanya mengobati anak yang sakit tujuannya adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pada anak karena anak sebagai penerus bangsa.
4. Untuk mensejahterakan anak keperawatan selalu mengutamakan keperawatan anak. Anak yang sejahtera berarti anak yang tidak merasakan gangguan psikologis seperti rasa cemas, takut, maupun sejenisnya. Upaya unutk mensejahterakan anak, tidak terlepas dari perannya keluarga juga.
5. Sebagai bagian dari keluarga anak harus dilibatkan dalam pelayanan keperawatan hali ini harus disepakati antara keluarga, anak, dan tim kesehatan.
6. Tujuan keperawatan anak adalah untuk meningkatkan kematangan yang sehat bagi anak sebagai makhluk biopsikososial dan spiritual. Upaya kematangan pada anak adalah selalu memperhatikan lingkungan baik secara internal maupun eksternal karena kematangan anak sangat ditentukan dari lingkungan masyarakat.
7. Pada masa yang akan datang kecenderungan keperawatan anak akan berfokus pada ilmu tumbuh kembang, sebab ilmu ini akan mempelajari Aspek kebutuhan anak.
(Alimul Aziz Hidayat. 2005. Pengantar Keperawatan Anak I)
E Perlindungan Bagi Anak
Florence Nightingale mengatakan “bahwa rumah sakit tidak boleh membahayakan pasien”. Pernyataan ini sama pentingnya seperti di kala itu. Sementara pasien berada dalam rumah sakit, tanggung jawab perawat terhadap pasien melibatkan pencegahan terhadap kecelakaan demikian juga integritas professional, melaksanakan prosedur perawatan dengan ketermpilan dan pengertian. (M.Sacharin,Rosa. 1996. hal 81)

F Hal - hal yang harus diperhatikan saat penyuntikan intravena :
1. Obat-obat yang diberikan harus berdasarkan program.
2. Sebelum menyiapkan obat suntikan, baca dengan teliti petunjuk pengobatan yang ada dalam catatan medik oleh status kesehatan pasien.
3. Pada waktu menyiapkan obat, baca dengan teliti label / etiket dari tiap-tiap obat.
4. Perhatikan tekhnik septik dan aseptik
5. Spuit dan jarum suntik tidak boleh dipergunakan untuk menyuntik pasien lain sebelum disterilkan.
6. Memotong ampul dengan gergaji ampul harus dilakukan secara hati-hati.
7. Pasien yang telah mendapat suntikan harus diawasi untuk beberapa saaat
8. bagi pasien berpenyakit meular melalui peredaran darah harus digunakan jarum dan spluit khusus.
(Tim Departemen Kesehatan RI.1994)

G Perawat menggunakan lima benar pemberian obat untuk menjamin pemberian obat yang aman :(Perry & Potter, 2005)
• Benar obat
• Benar dosis
• Benar klien
• Benar rute pemberian
• Benar waktu


BAB III
TINJAUAN KASUS

Di RSUD Nabire, seorang anak bernama Welly Yane Rian Maniawasi (11 tahun) meninggal akibat disuntik dengan obat penenang (Diazepam) sebanyak 3 kali berturut-turut oleh perawat yang bernama Dombing Brata. Tindakan tersebut dilakukan tanpa kolaborasi dan tanpa instruksi dari dokter jaga. Akibat kelalaian tersebut , setelah disuntik tubuh Welly menjadi lemas, Welly mengalami muntah berak dan muntah kuning. Hal ini terjadi karena sudah kelebihan dosis penyuntikan dan efek samping dari obat tersebut. Tak berapa lama kemudian, Welly menghembuskan nafas terkhirnya. 1 jam setelah meninggal, tubuh Welly berubah menjadi kemerah-merahan. Di ujung jari Welly dan beberapa bagian tubuh tampak kebiru-biruan. Selain itu, mayatnya terlihat keras seperti di formalin.
Tindakan perawat tersebut jika dikaitkan dengan teori malpraktik yang ada di dalam bab II menunjukkan bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan malpraktik karena tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan standar profesi yang berlaku.

BAB IV
PEMBAHASAN

Menurut Guwandi malpraktik adalah kelalaian dari seorang dokter atau perawat untuk menerapkan tingkat keterampilan dan pengetahuannya didalam memberikan pelayanan pengobatan dan perawatan terhadap seorang pasien yang lazim diterapkan dalam mengobati dan merawat orang sakit atau terluka dilingkungan wilayah yang sama. ( Julianus, Akke. 2002. Malpraktik dalam Keperawatan ).
Berdasarkan tinjauan kasus diatas, kasus tersebut termasuk dalam malpraktik karena perawat tersebut tidak menerapkan keterampilan dan pengetahuannya dalam memberikan perawatan, tetapi perawat tersebut memberikan pengobatan tanpa berkolaborasi dengan dokter sehingga menyebabkan over dosis pada pasien.
Seharusnya perawat tersebut melakukan tindakan sesuai dengan profesinya, bukan melakukan tindakan invasif yang merupakan wewenang dokter, bila perawat ingin melakukan tindakan memberikan obat seharusnya berkolaborasi dengan dokter. Bukan saja menganggap tugas memberikan obat itu sebagai tindakan perawat. Seharusnya tindakan keperawatan hanyalah mencakup tindakan kebutuhan dasar manusia dan ilmu yang dipelajari di keperawatan. Bila perawat melakukan kesalahan, dikenakan pelanggaran-pelanggaran sebagai berikut :

1. Pelanggaran etika profesi
Pelanggaran ini sepenuhnya tanggung jawab organisasi profesi ( MKEK ) sebagai mana tercantum pada pasal 26 dan 27 anggaran dasar PPNI. Sebagaimana halnya dokter perawat pun merupakan tenaga kesehatan professional yang menghadapi banyak masalah moral atau etik sepanjang melaksanakan praktek profesional. Beberapa masalah etik antara lain moral unpreparedness, moral blindness. Amoralism, dan moral fanatism, masalah etik yang terjadi pada tenaga keperawatan ( PPNI ) melalui MKEK.


2. Sanksi Administratif
Berdasarkan Keppres No. 56 tahun 1995 di bentuk Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan ( MDTK ) dalam rangka pemberian perlindungan yang seimbang dan obyektif kepada tenaga kesehatan dan masyarakat penerima pelayanan kesehatan. MDTK bertugas meneliti dan menentukan ada atau tidaknya kesalahan atau kelalaian dalam menerapkan standar profesi yang dilakukan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Berdasarkan pemeriksaan MDTK, hasilnya akan dilaporkan kepada pejabat kesehatan yang berwenang untuk diambil tindakan disiplin terhadap tenaga kesehatan dengan memperhatikan Undang-Undang yang berlaku. Tindakan sebagaimana yang dimaksud tidak mengurangi ketentuan pada pasal 54 ayat 1 dan 2 UU no 23 tahun 1992 tentang kesehatan, yang berbunyi sebagai berikut :
1. Sebagai tenaga kesehatan terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesehatan atau kelalaian dalam melaksanakan proses dapat dikenakan tindakan disiplin
2. Penentuan ada atau tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 di tentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan ( MDTK ). Keanggotaan MDTK terdiri dari unsur sarjana hukum, ahli kesehatan yang diwakili organisasi profesi di bidang kesehatan, ahli agama, ahli psikologi, dan ahli sosiologi. Organisasi ini berada di tingkat pusat dan tingkat profesi. Sejauh in sulawesi selatan belum terbentuk MDTK.

Dalam hal ini seharusnya perawat melakukan tindakan sebagai berikut:
1. Utamakan kepentingan pasien
2. Tanyakan saran atau pesan yang diberikan oleh dokter jika pesan tidak jelas
3. Jangan melakukan tindakan yang belum dikuasai.
4. Hindari kekurang hati-hatian dalam memberikan asuhan keperawatan.
5. Lakukan konsultasi dengan anggota tim lainnya.
6. Biasakan bekerja berdasarkan kebijakan organisasi atau rumah sakit dan prosedur tindakan yang berlaku. (Venstal,1995)


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Jadi, saatb perawat melakukan tindakan keperawatan harus sangat berhati-hati karena perawat adalah seorang yang bekerja sebagai profesi yang professional sehingga harus dituntut bekerja dan berpikir secara efektif, tepat, dan efesien. Hal ini dikarenakan perawat bekerja di lingkungan yang membutuhkan bantuan baik secara biopsikososial dan spiritual.
Seperti dalam kasus diatas sangat jelas bahwa perawat dalam kasus itu melakukan tindakan malpraktik keperawatan. Hal ini dapat kita ketahui dengan jelas setelah kita melihat pengertian dalam bab 2. Tindakan perawat tersebut sangat sesuai dengan kriteria mal praktik karena perawat tersebut ceroboh, tidak terampil, serta mempunyai pengetahuan yang dangkal (dalam tinjauan kasus: perawat memberikan obat penenang tanpa kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, perawat memberikan dosis yang dimana dosis tersebut tidak dapat ditoleran oleh pasien karena kurangnya pengetahuan). Mengapa perawat tersebut jelas masuk dalah kriteria malpraktik karena didalam tinjauan teori diterangkan bahwa malpraktik adalah kelalaian dari perawat untuk menerapkan tingkat keterampilan dan pengetahuannya didalam memberikan pelayanan pengobatan dan perawatan terhadap seorang pasien yang lazim diterapkan dalam mengobati dan merawat orang sakit atau terluka dilingkungan wilayah yang sama (Guwandi).

B. Saran
Diharapkan perawat dalam melakukan setiap tindakan harus berpikir secara kritis dan tidak melakukan tindakan yang sesuai dengan keinginannya tapi harus berdasarkan prinsip SOP (Standart Operating Procedur) yang ada di dalam rumah sakit, sehingga perawat tidak melakukan tindakan malpraktik yang dapat merugikan pasien.

Daftar Pustaka

Julianus Ake. 2002. Malpraktik Dalam Keperawatan. Jakarta:EGC.

Azis, Alimul, 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta:EGC.

Potter,Perry.2005.Fundamental Keperawatan.Jakarta:EGC.

Tim Departemen Kesehatan RI.1994.Prosedur Perawatan Anak.Jakarta:Departemen Kesehatan.

Rossa,M.Sachrin.1996.Prinsip Keperawatan Pediatrik.Jakarta:EGC

www.wikimu.com


»»  Baca Selanjutnya...
8:55 PM

PERAWATAN TALI PUSAT

PERAWATAN TALI PUSAT


Saat bayi dilahirkan, tali pusar (umbilikal) yang menghubungkannya dan plasenta ibunya akan dipotong oleh dokter. Semasa dalam rahim, tali ini menyalurkan oksigen dan makanan dari plasenta ke janin yang berada di dalamnya.

Tapi saat dilahirkan, bayi tidak lagi membutuhkan oksigen dari ibunya, karena ia sudah dapat bernapas sendiri melalui hidung. Karena itulah, tali tersebut harus dipotong meski tidak semuanya.

Tali pusar yang melekat di perut bayi, akan disisakan beberapa senti oleh dokter. Sisanya ini akan dibiarkan hingga pelan-pelan menyusut dan mengering, lalu terlepas dengan sendirinya.

"Tali pusar itu memang sengaja disisakan beberapa sentimeter, hingga menyusut dan terlepas dengan sendirinya," jelas Dr. H. Effek Alamsyah, MPH, MBA., dari RS Islam Jakarta.

Tak perlu panik bila si kecil mengalami sedikit pendarahan saat sisa tali pusarnya terlepas, karena itu hal yang wajar. "Itu wajar, kok, tidak ada yang harus dikuatirkan," ujar spesialis Neonatal ini lagi.

Saat sisa tali pusar masih menggantung, banyak ibu-ibu yang takut memandikan bayinya. Dari takut basah, berdarah atau lama keringnya. Padahal tak masalah bila sisa tali pusar tersebut terkena air. Tapi bila memang takut, cukup basuh tubuhnya dengan handuk yang dibasahi air hangat.

Agar tidak menimbulkan infeksi, sisa potongan tadi harus dirawat dengan benar. Sebanyak dua kali sehari sehabis mandi, tali pusar si kecil harus dibersihkan. Setelah bayi berusia 10-14 hari, biasanya tali pusar ini sudah mengering dan terlepas dengan sendirinya.

Cara membersihkannya bisa dilakukan sebagai berikut:

1. Cuci tangan bersih-bersih dengan sabun.
2. Ambil kapas bulat atau kapas bertangkai yang telah dibubuhi alkohol 70%, lalu bersihkan sisa tali pusar, terutama bagian pangkalnya (yang menempel pada perut).
3. Lakukanlah dengan hati-hati, apalagi bila pusar bayi masih berwarna merah.
4. Gunakan jepitan khusus dari plastik untuk 'memegang' ujung tali pusarnya, agar lebih mudah dalam membersihkan dan melilitkan perbannya.
5. Rendam perban/kasa steril dalam alkohol 70%, lalu bungkus sisa tali pusar. Usahakan agar seluruh permukaan hingga ke pangkalnya tertutup perban.
6. Lilitkan perban/kasa sedemikian rupa agar bungkusan tidak terlepas. Pastikan tidak terlalu ketat, agar bayi tidak kesakitan.
7. Gunakan kain kasa untuk mengikat perban agar tetap pada tempatnya


1. Pengertian
Perawatan yang dilakukan pada tali pusat untuk mencegah infeksi.
2. Tujuan
Mencegah dan mengidentifikasi perdarahan infeksi secara dini.
3. hal- hal yang dilarang
membubuhkan atau mengoleskan ramuan dan abu dapur karena akan menyebabkan infeksi.
4. hal-hal yang perlu di perhatikan
• janagan membungkus putung tali pusat atau perut bayi atau menoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat.
• lipat popok di bawah puntung tali pusat.
• Jika puntung tali pusat kotor, bersihkan (hati-hati) dengan air DTT dan sabun segera keringkan secara seksama dengan menggunakan kain bersih.
• Mencari bantuan perawatan jika terdapat tanda-tanda infeksi.
• Atau segera rujuk bayi kefasilitas yang lebih lengkap.
Upaya yang dapat dilakukakan untuk mencegah terjadinya infeksi:
 Pencegahan infeksi pada tali pusat
• Merawat tali pusat berarti menjaga agar luka tersebut tetap bersih, tidak terkena air kencing, kotoran bayi atau tanah.
• Bila kotor, cuci luka tali pusat dengan air bersih yang mengalir dan segera keringkan dengan kassa kering dan di bungkus dengan kassa tipis yang steril dan kering.
• Dilarang membubuhkan atau mengoleskan ramuan, abu dapur, dan sebagainya pada luka tali pusat sebab akan menyebabkan infeksi dan tetanus yang dapat berakhir dengan kematian neonatal.
• Tanda- tanda infeksi tali pusat adalah:
a.Kulit sekitarnya berwarna kemerahan.
b. Ada pus atau nanah.
c. Berbau busuk

Merawat Tali Pusat

Mengikat tali pusat
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai stabil maka lakukan pengikatan puntung btali pusat atau jepit dengan klem tali puasat (bila tersedia)
a) Celupkan tangan|(masih menggunakan sarung tanagn) kedalam larutan klorin 0,5% untuk membersihkan darah dan sekresi lainya.
b) Bilas tangan dengan air disinfeksi tinggi.
c) Keringkan tangan tersebut menggunakan handuk atau kain bersih dan kering.
d) Ikat puntung tali pusat dengan jarak 1 cm dari dinding perut bayi(pusat). Gunakan benang atau klem plastik penjepit tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Kunci ikatan tali pusat dengan simpul mati atau kuncikan penjepit plastik tali pusat.
e) Jika pengikatan dilakukan dengan benang tali pusat, lingkarkan benang di sekeliling putung tali pusat dan ikat untuk kedua kalinya dengan simpul mati di bagian yang berlawanan.
f) Lepaskan klem logam penjepit tali pusat dan letakan di dalam larutan klorin 0.5 %.
g) Selimuti kembali tubuh dan kepala bayi dengan kain bersih dan kering.

Alat dan bahan:
1. waslap
2. kasa kering
3. air matang
4. kain kering

langkah-langkah
1. cuci tangan
2. cuci tali pusat dengan air matang menggunakan waslap.
3. keringkan dengan kain kering.
4. bungkus tali pusat dengan kasa kering yang steril.
5. pakaikan kembali pakain bayi dan popok bayi.
6. beresakan alat dan cuci tangan.




»»  Baca Selanjutnya...
8:12 PM

ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PANGGUL SEMPIT

ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA

DENGAN INDIKASI PANGGUL SEMPIT

I. Pengertian

Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

II. Jenis – jenis operasi sectio caesarea

1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis)

a. Sectio caesarea transperitonealis

- SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri)

Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm.

Kelebihan :

ü Mengeluarkan janin dengan cepat

ü Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik

ü Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal

Kekurangan

ü Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik

ü Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan

- SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim)

Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm

Kelebihan :

ü Penjahitan luka lebih mudah

ü Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik

ü Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum

ü Perdarahan tidak begitu banyak

ü Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil

Kekurangan :

ü Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak

ü Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi

b. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal

2. Vagina (section caesarea vaginalis)

Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Sayatan memanjang ( longitudinal )
2. Sayatan melintang ( Transversal )
3. Sayatan huruf T ( T insicion )

III. Indikasi

Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia )

- Fetal distress

- His lemah / melemah

- Janin dalam posisi sungsang atau melintang

- Bayi besar ( BBL ³ 4,2 kg )

- Plasenta previa

- Kalainan letak

- Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul )

- Rupture uteri mengancam

- Hydrocephalus

- Primi muda atau tua

- Partus dengan komplikasi

- Panggul sempit

- Problema plasenta

IV. Komplikasi

Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain :

1. Infeksi puerperal ( Nifas )

- Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari

- Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung

- Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik

2. Perdarahan

- Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka

- Perdarahan pada plasenta bed

3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi

4. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya

V. Post Partum

A. DEFINISI PUERPERIUM / NIFAS

Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama ± 6 minggu.

(Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)

adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983)

B. PERIODE

Masa nifas dibagi dalam 3 periode:

1. Early post partum

Dalam 24 jam pertama.

2. Immediate post partum

Minggu pertama post partum.

3. Late post partum

Minggu kedua sampai dengan minggu keenam.

C. TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN

1. Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya.

2. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.

3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.

4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

D. TANDA DAN GEJALA

1. Perubahan Fisik

a. Sistem Reproduksi

· Uterus

· Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil.
setelah hamil.

No

Waktu

TFU

Konsistensi

After pain

Kontraksi

1.

2.

3.

4.

Segera setelah lahir

1 jam setelah lahir

12 jam setelah lahir

setelah 2 hari

Pertengahan simpisis dan umbilikus

Umbilikus

1 cm di atas pusat

Turun 1 cm/hari

Lembut

Terjadi

Berkurang


Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu.

- Lochea

· Komposisi

Jaringan endometrial, darah dan limfe.

· Tahap

a. Rubra (merah) : 1-3 hari.

b. Serosa (pink kecoklatan)

c. Alba (kuning-putih) : 10-14 hari

Lochea terus keluar sampai 3 minggu.

· Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri.

Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml.

- Siklus Menstruasi

Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal.

- Ovulasi

Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih.

Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

- Serviks

Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah.

- Vagina

Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi.

- Perineum

· Episiotomi

Penyembuhan dalam 2 minggu.

· Laserasi

TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot

TK II : Meluas sampai dengan otot perineal

TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter

TK IV : melibatkan dinding anterior rektal

b. Payudara

Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari.

c. Sistem Endokrin

- Hormon Plasenta

HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi.

- Hormon pituitari

Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama, menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada minggu I post partum.

d. Sistem Kardiovaskuler

- Tanda-tanda vital

Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi.

- Volume darah

Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu

Persalinan normal : 200 – 500 cc, sesaria : 600 – 800 cc.

- Perubahan hematologik

Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat.

- Jantung

Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-3 minggu.

e. Sistem Respirasi

Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum.

f. Sistem Gastrointestinal

- Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.

- Nafsu makan kembali normal.

- Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.

g. Sistem Urinaria

- Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma.

- Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam.

- Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.

h. Sistem Muskuloskeletal

Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum.

i. Sistem Integumen

Hiperpigmentasi perlahan berkurang.

j. Sistem Imun

Rhesus incompability, diberikan anti RHO imunoglobin.

VI. PANGGUL SEMPIT

Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul

Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut :

1. Kesempitan pintu atas panggul

2. kesempitan bidang bawah panggul

3. kesempitan pintu bawah panggul

4. kombinasi kesempitan pintu atas pangul, bidang tengah dan pintu bawah panggul.

Ø Kesempitan pintu atas panggul

Pintu atas panggul dianggap sempit kalau conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm

Conjugata vera dilalui oleh diameter biparietalis yang ± 9½ cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm, maka sudah jelas bahwa conjugata vera yang kurang dari 10cm dapat menimbulkan kesulitan. Kesukaran bertambah lagi kalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit.

Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut :

1. Kelainan karena gangguan pertumbuhan

a. Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil

b. Panggul picak : ukuran muka belakang sempit, ukuran melintang biasa

c. Panggul sempit picak : semua ukuran kecil tapi terlebiha ukuran muka belakang

d. Panggul corong :pintu atas panggul biasa,pintu bawah panggul sempit

e. Panggul belah : symphyse terbuka

2. kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya

a. Panggul rachitis : panggul picak, panggul sempit, seluruha panggul sempit picak dan lain-lain

b. Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang

c. Radang articulatio sacroilliaca : panggul sempit miring

3. kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang

a. kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong

b. sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring

4. kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah

coxitis, luxatio, atrofia. Salah satu anggota menyebabkan panggul sempit miring.

Disamping itu mungkin pula ada exostase atau fraktura dari tulang panggul yang menjadi penyebab kelainan panggul.

Ø Pengaruh panggul sempit pada kehamilan dan persalinan

Panggul sempit mempunyai pengaruh yang besar pada kehamilan maupun persalinan.

1.Pengaruh pada kehamilan

- Dapat menimbulkan retrafexio uteri gravida incarcerata

- Karena kepala tidak dapat turun maka terutama pada primi gravida fundus atau gangguan peredaran darah

Kadang-kadang fundus menonjol ke depan hingga perut menggantung

Perut yang menggantung pada seorang primi gravida merupakan tanda panggul sempit

- Kepala tidak turun kedalam panggul pada bulan terakhir

- Dapat menimbulkan letak muka, letak sungsang dan letak lintang.

- Biasanya anak seorang ibu dengan panggul sempit lebih kecil dari pada ukuran bayi pukul rata.

2.Pengaruh pada persalinan

- Persalinan lebih lama dari biasa.

a. Karena gangguan pembukaan

b. Karena banyak waktu dipergunakan untuk moulage kepala anak

Kelainan pembukaan disebabkan karena ketuban pecah sebelum waktunya, karena bagian depan kurang menutup pintu atas panggul selanjutnya setelah ketuban pecah kepala tidak dapat menekan cervix karena tertahan pada pintu atas panggul

- Pada panggul sempit sering terjadi kelainan presentasi atau posisi misalnya :

a. Pada panggul picak sering terjadi letak defleksi supaya diameter bitemporalis yang lebih kecil dari diameter biparietalis dapat melalui conjugata vera yang sempit itu.

Asynclitismus sering juga terjadi, yang diterapkan dengan “knopfloch mechanismus” (mekanisme lobang kancing)

b. Pada oang sempit kepala anak mengadakan hyperflexi supaya ukuran-ukuran kepala belakang yang melalui jalan lahir sekecil-kecilnya

c. Pada panggul sempit melintang sutura sagitalis dalam jurusan muka belang (positio occypitalis directa) pada pintu atas panggul.

- Dapat terjadi ruptura uteri kalau his menjadi terlalu kuat dalam usaha mengatasi rintangan yang ditimbulkan oleh panggul sempit

- Sebaiknya jika otot rahim menjadi lelah karena rintangan oleh panggul sempit dapat terjadi infeksi intra partum. Infeksi ini tidak saja membahayakan ibu tapi juga dapat menyebabkan kematian anak didalam rahim.

Kadang-kadang karena infeksi dapat terjadi tympania uteri atau physometra.

- Terjadi fistel : tekanan yang lama pada jaringan dapat menimbulkan ischaemia yang menyebabkan nekrosa.

Nekrosa menimbulkan fistula vesicovaginalis atau fistula recto vaginalis. Fistula vesicovaginalis lebih sering terjadi karena kandung kencing tertekan antara kepala anak dan symphyse sedangkan rectum jarang tertekan dengan hebat keran adanya rongga sacrum.

- Ruptur symphyse dapat terjadi , malahan kadang – kadang ruptur dari articulatio scroilliaca.

Kalau terjadi symphysiolysis maka pasien mengeluh tentang nyeri didaerah symphyse dan tidak dapat mengangkat tungkainya.

- Parase kaki dapat menjelma karena tekanan dari kepala pada urat-urat saraf didalam rongga panggul , yang paling sering adalah kelumpuhan N. Peroneus.

3.Pengaruh pada anak

- Patus lama misalnya: yang lebih dari 20 jam atau kala II yang lebih dari 3 jam sangat menambah kematian perinatal apalagi kalau ketuban pecah sebelum waktunya.

- Prolapsus foeniculli dapat menimbulkan kematian pada anak

- Moulage yang kuat dapat menimbulkan perdarahan otak. Terutama kalau diameter biparietalis berkurang lebih dari ½ cm. selain itu mungkin pada tengkorak terdapat tanda-tanda tekanan. Terutama pada bagian yang melalui promontorium (os parietal) malahan dapat terjadi fraktur impresi.

Ø Persangkaan Panggul sempit

Seorang harus ingat akan kemungkinan panggul sempit kalau :

1. Aprimipara kepala anak belum turun setelah minggu ke 36

2. Pada primipara ada perut menggantung

3. pada multipara persalinan yang dulu – dulu sulit

4. kelainan letak pada hamil tua

5. kelainan bentuk badan (Cebol, scoliose,pincang dan lain-lain)

6. osborn positip

Ø Prognosa

Prognosa persalinan dengan panggul sempit tergantung pada berbagai faktor

- Bentuk panggul

- Ukuran panggul, jadi derajat kesempitan

- Kemungkinan pergerakan dalam sendi-sendi panggul

- Besarnya kepala dan kesanggupan moulage kepala

- Presentasi dan posisi kepala

- His

Diantara faktor faktor tersebut diatas yang dapat diukur secara pasti dan sebelum persalinan berlangsung hanya ukuran-ukuran panggul : karena itu ukuran – ukuran tersebut sering menjadi dasar untuk meramalkan jalannya persalinan.

Menurut pengalaman tidak ada anak yang cukup bulan yang dapat lahir dengan selamat per vaginam kalau CV kurang dari 8 ½ cm.

Sebaliknya kalau CV 8 ½ cm atau lebih persalinan pervaginam dapat diharapkan berlangsung selamat.

Karena itu kalau CV <>

Sebaliknya pada CV antara 8,5-10 cm hasil persalinan tergantung pada banyak faktor :

1. Riwayat persalinan yang lampau

2. besarnya presentasi dan posisi anak

3. pecahnya ketuban sebelum waktunya memburuknya prognosa

4. his

5. lancarnya pembukaan

6. infeksi intra partum

7. bentuk panggul dan derajat kesempitan

karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil persalinan pada panggul dengan CV antara 8 ½ - 10cm (sering disebut panggul sempit relatip) maka pada panggul sedemikian dilakukan persalinan percobaan.

Ø Persalinan percobaan

Yang disebut persalinan percobaan adalah untuk persalinan per vaginam pada wanita wanita dengan panggul yang relatip sempit. Persalinan percobaan dilakukan hanya pada letak belakang kepala, jadi tidak dilakukan pada letak sungsang, letak dahi, letak muka atau kelainan letak lainnya.

Persalinan percobaan dimulai pada permulaan persalinan dan berakhir setelah kita mendapatkan keyakinan bahwa persalinan tidak dapat berlangsung per vaginam atau setelah anak lahir per vaginam.

Persalinan percobaan dikatakan berhasil kalau anak lahir pervaginam secara spontan atau dibantu dengan ekstraksi (forcepe atau vacum) dan anak serta ibu dalam keadaan baik.

Kita menghentikan presalianan percobaan kalau:

1. – pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuaannya

- Keadaan ibu atau anak menjadi kurang baik

- Kalau ada lingkaran retraksi yang patologis

2. – setelah pembukaan lengkap dan pecahnya ketuban,kepala dalam 2 jam tidak mau masuk ke dalam rongga panggul walaupun his cukup kuat

- Forcepe gagal

Dalam keadaan-keadaan tersebut diatas dilakukan SC. Kalau SC dilakukan atas indikasi tersebut dalam golongan 2 (dua) maka pada persalinan berikutnya tidak ada gunanya dilakukan persalinan percobaan lagi

Dalam istilah inggris ada 2 macam persalinan percobaan :

1. Trial of labor : serupa dengan persalinan percobaan yang diterngkan diatas

2. test of labor : sebetulnya merupakan fase terakhir dari trial of labor karena test of labor mulai pada pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam sesudahnya.

Kalau dalam 2 jam setelah pembukaan lengkap kepala janin tidak turun sampai H III maka test of labor dikatakan berhasil.

Sekarang test of labor jarang dilakukan lagi karena:

1. Seringkali pembukaan tidak menjadi lengkap pada persalinan dengan panggul sempit

2. kematian anak terlalu tinggo dengan percobaan tersebut

Ø kesempitan bidang tengah panggul

bidang tengah panggul terbentang antara pinggir bawah symphysis dan spinae ossis ischii dan memotong sacrum kira-kira pada pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5

Ukuran yang terpenting dari bidang ini adalah :

1. Diameter transversa ( diameter antar spina ) 10 ½ cm

2. diameter anteroposterior dari pinggir bawah symphyse ke pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 11 ½ cm

3. diameter sagitalis posterior dari pertengahan garis antar spina ke pertemuan sacral 4 dan 5 5 cm

dikatakan bahwa bidang tengah panggul itu sempit :

1. Jumlah diameter transversa dan diameter sagitalis posterior 13,5 atau kurang ( normal 10,5 cm + 5 cm = 15,5 cm)

2. diameter antara spina <>

ukuran – ukuran bidang tengah panggul tidak dapat diperoleh secara klinis, harus diukur secara rontgenelogis, tetapi kita dapat menduga kesempitan bidang tengah panggul kalau :

- Spinae ischiadicae sangat menonjol

- Kalau diameter antar tuber ischii 8 ½ cm atau kurang

Ø Prognosa

Kesempitan bidang tengah panggul dapat menimbulkan gangguan putaran paksi.kalau diameter antar spinae 9 cm atau kurang kadang-kadang diperlukan SC.

Ø Terapi

Kalau persalinan terhenti karena kesempitan bidang tengah panggul maka baiknya dipergunakan ekstraktor vacum, karena ekstraksi dengan forceps memperkecil ruangan jalan lahir.

Ø Kesempitan pintu bawah panggul:

Pintu bawah panggul terdiri dari 2 segi tiga dengan jarak antar tuberum sebagai dasar bersamaan

Ukuran – ukuran yang penting ialah :

1. Diameter transversa (diameter antar tuberum ) 11 cm

2. diameter antara posterior dari pinggir bawah symphyse ke ujung os sacrum 11 ½ cm

3. diameter sagitalis posterior dari pertengahan diameter antar tuberum ke ujung os sacrum 7 ½ cm

pintu bawah panggul dikatakan sempit kalau jarak antara tubera ossis ischii 8 atau kurang

kalau jarak ini berkurang dengan sendirinya arcus pubis meruncing maka besarnya arcus pubis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul.

Menurut thomas dustacia dapat terjadi kalau jumlah ukuran antar tuberum dan diameter sagitalis posterior < cm =" 18,5">

Kalau pintu bawah panggul sempit biasanya bidang tengah panggul juga sempit. Kesempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan gangguan putaran paksi. Kesempitan pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan SC bisanya dapat diselesaikan dengan forcepe dan dengan episiotomy yang cukup luas.

VII. Pengkajian

1. Sirkulasi

Perhatikan riwayat masalah jantung, udema pulmonal, penyakit vaskuler perifer atau stasis vaskuler ( peningkatan resiko pembentukan thrombus )

2. integritas ego

perasaan cemas, takut, marah, apatis, serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial, hubungan, gaya hidup. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat, peningkatan ketegangan, stimulasi simpatis

3. Makanan / cairan

Malnutrisi, membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM, predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis

4. Pernafasan

Adanya infeksi, kondisi yang kronik/ batuk, merokok

5. Keamanan

- Adanya alergi atau sensitive terhadap obat, makanan, plester dan larutan

- Adanya defisiensi imun

- Munculnya kanker/ adanya terapi kanker

- Riwayat keluarga, tentang hipertermia malignan/ reaksi anestesi

- Riwayat penyakit hepatic

- Riwayat tranfusi darah

- Tanda munculnya proses infeksi

VIII. Pathways

IX. Proritas Keperawatan

- Mengurangi ansietas dan trauma emosional

- Menyediakan keamanan fisik

- Mencegah komplikasi

- Meredakan rasa sakit

- Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan

- Menyediakan informasi mengenai proses penyakit

X. Diagnosa Keperawatan

Ø Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan

Ø Resti infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri

Ø Nyeri akut b.d insisi, flatus dan mobilitas

Ø Resti perubahan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka, penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri, mual, muntah )

XI. Intervensi

DP

Tujuan

Intervensi

Rasional

Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan

Resti infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri

Nyeri akut b.d insisi, flatus dan mobilitas

Resti perubahan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan tubuh untuk penyembuhan luka,penurunan masukan (sekunder akibat nyeri, mual, muntah

Ansietas berkurang setelah diberikan perawatan dengan kriteria hasil :

- Tidak menunjukkan traumatik pada saat membicarakan pembedahan

- Tidak tampak gelisah

- Tidak merasa takut untuk dilakukan pembedahan yang sama

- Pasien merasa tenang

Infeksi tidak terjadi setelah perawatan selama 24 jam pertama dengan kriteria hasil :

- Menunjukkan kondisi luka yang jauh dari kategori infeksi

- Albumin dalam keadaan normal

- Suhu tubuh pasien dalam keadaan normal, tidak demam

Nyeri dapat berkurang setelah perawatan 1x 24 jam dengan kriteria :

- Pasien tidak mengeluh nyeri / mengatakan bahwa nyeri sudah berkurang

Mendemontrasikan berat badan stabil atau penambahan berat badan progresif kearah tujuan dengan normalisasi nilai laboratorium dan bebas dari tanda malnutrisi

- Lakukan pendekatan diri pada pasien supaya pasien merasa nyaman

- Yakinkan bahwa pembedahan merupakan jalan terbaik yang harus ditempuh untuk menyelamatkan bayi dan ibu

- Berikan nutrisi yang adekuat

- Berikan penkes untuk menjaga daya tahan tubuh, kebersihan luka, serta tanda-tanda infeksi dini pada luka

- lakukan pengkajian nyeri

- lakukan managemen nyeri

- monitoring keadaan insisi luka post operasi

- ajarkan mobilitas yang memungkinkan tiap jam sekali

- kaji status nutrisi secara continue selama perawatan tiap hari, perhatikan tingkat energi, kondisi, kulit, kuku, rambut, rongga mulut

- tekankan pentingnya trasnsisi pada pemberian makan per oral dengan tepat

- beri waktu mengunyah, menelan, beri sosialisasi dan bantuan makan sesuai dengan indikasi

- Rasa nyaman akan menumbuhkan rasa tenang, tidak cemas serta kepercayaan pada perawat.

- Nutrisi yang adekuat akan menghasilkan daua tubuh yang optimal

- Dengan adanya partisipasi dari pasien, maka kesembuhan luka dapat lebih mudah terwujud

- Setiap skala nyeri memiliki managemen yang berbeda

- Antisipasi nyeri akibat luka post operasi

- Antisipasi nyeri akibat luka post operasi

- Mobilitas dapat merangsang peristaltik usus sehingga mempercepat flatus

- Memberi kesempatan untuk mengobservasi penyimpangan dari norma/ dasar pasien dan mempengaruhi pilihan intervensi

- Trasnsisi pemberian makan oral lebih disukai

- Pasien perlu bantuan untuk menghadapi masalah anoreksia, kelelahan, kelemahan otot

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito L. J, 2001, Diagnosa keperawatan, Jakarta : EGC

Doengoes, M E, 2000, Rencana Askep pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, Jakarta : EGC

Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri, Jakarta : EGC

Winkjosastro, Hanifa, 2005, Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

»»  Baca Selanjutnya...